Pengendalian Mutu Pendidikan

“PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN BERDASARKAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN”
( KONSEP, PRINSIP, DAN INSTRUMEN)

A.KONSEP DAN PENERAPAN PROGRAM MUTU DALAM PENDIDIKAN
Dewasa ini dunia ditandai oleh perubahan – perubahan yang sangat cepat dan bersifat global. Hal ini disebabkan oleh perkembangan ilmu dan tekhnologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang komunikasi dan elektronika. Perkembangan dalam bidang ini telah mengakibatkan revolusi informasi, hampir mengenai semua bidang kehidupan dari semua tempat. Perubahan ini memberikan tuntutan, tantangan bahkan ancaman – ancaman baru. Pada abad sekarang ini manusia – manusia dituntut berusaha tahu banyak (“knowing much”) berbuat banyak (“doing much”), mencapai keunggulan (“being excellence”) menjalin hubungan dan kerja sama dengan orang lain (“being sociable”) serta berusaha memegang teguh nilai – nilai moral (“being morally”). Manusia “unggul, bermoral dan bekerja keras” inilah yang menjadi tuntutan dari masyarakat global. Manusia – manusia seperti ini yang akan mampu dan berkompeten.
Dasar – dasar pengembangan manusia “unggul, bermoral dan bekerja keras” diberikan di sekolah. SLTP/MTs memberikan dasar – dasar pengembangan kecakapan akademis dan kecakapan hidup yang bersifat umum. Kecakapan yang dipelajari tidak sekedar tahu atau kenal, tapi mereka harus paham, cakap, mampu serta mahir menggunakannya, hal itu harus diikuti dengan motivasi, kemauan, semangat dan tekad menyatakannya.
Mutu pendidikan atau mutu sekolah tertuju pada mutu lulusan. Merupakan suatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses yang bermutu pula, merupakan suatu yang mustahil pula terjadi proses pendidikan yang bermutu jika tidak didukung oleh faktor – faktor yang menunjang proses pendidikan yang bermutu pula, proses pendidikan yang bermutu harus didukung oleh personalia seperti administrator, guru, konselor, dan tata usaha yang bermutu dan professional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas media, serta sumber belajar yang memadai, baik mutu dan jumlahnya, dan biaya yang mencukupi, manajemen yang tepat, serta lingkungan yang mendukung.
Mutu pendidikan bersifat menyeluruh menyangkut semua komponen, pelaksana dan kegiatan pendidikan, atau disebut sebagai mutu total (Total Quality).

B. PENGERTIAN MANAJEMEN MUTU TERPADU
Istilah utama yang terkait dengan kajian Total Quality Management (TQM) ialah continous improvement (perbaikan terus-menerus) dan Quality improvement ( Perbaikan Mutu ). Sebagai upaya untuk mengelola perubahan dalam organisasi, ada beberapa slogan yang diungkapkan, yaitu “manajemen mutu terpadu”, “kepuasan pelanggan terpadu,” “kegagalan nol,” ”proses pengendalian statistik,” ”diagram Ishikawa,” dan “tim perbaikan mutu”. Semua slogan di atas menghadirkan filsafat mutu, program, dan teknik berbeda yang digunakan oleh berbagai organisasi bisnis, industri dan jasa dalam upaya pengembangan mutu. Oleh karena itu, manajemen mutu terpadu merupakan salah satu strategi manajemen untuk menjawab tantangan external suatu organisasi guna memenuhi kepuasan pelanggan.
Para Ahli manajemen telah banyak mengemukakan pengertian TQM. Di sini dikemukakan beberapa saja sebagai kerangka kajian selanjutnya. Menurut Edward Sallis (1993:13) bahwa “Total Quality Management is a philosophy and a methodology which assist institutions to manage change and set their own agendas for dealing with the plethora of new external pressures.” Pendapat di atas menekankan pengertian bahwa manajemen mutu terpadu merupakan suatu filsafat dan metodologi yang membantu berbagai institusi, terutama industri dalam mengelola perubahan dan menyusun agenda masing-masing untuk menanggapi tekanan-tekanan faktor eksternal.
Patricia Kovel-Jarboe (1993) mengutip Caffee dan Sherr menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas, dan mengurangi pembiayaan. Adapun istilah yang bersamaan maknanya dengan TQM adalah continous quality improvement (CQI) atau perbaikan mutu berkelanjutan.
TQM memfokuskan proses atau system pencapaian tujuan organisasi. Dengan dimulai dari proses perbaikan mutu, maka TQM diharapkan dapat mengurangi peluang membuat kesalahan dalam menghasilkan produk, karena produk yang baik adalah harapan para pelanggan. Jadi, rancangan produk diproses sesuai dengan prosedur dan teknik untuk mencapai harapan pelanggan. Penggunaan metode ilmiah dalam menganalisis data diperlukan sekali untuk menyelesaikan masalah dalam peningkatan mutu. Partisipasi semua pegawai digerakkan agar mereka memiliki motivasi dan kinerja yang tinggi dalam mencapai tujuan kepuasan pelanggan.

C. SISTEM INFORMASI
Sistem informasi adalah aplikasi komputer untuk mendukung operasi dari suatu organisasi: operasi, instalasi, dan perawatan komputer, perangkat lunak, dan data. Sistem Informasi Manajemen adalah kunci dari bidang yang menekankan finansial dan personal manajemen. Sistem Informasi Penjualan adalah suatu sistem informasi yang mengorganisasikan serangkaian prosedur dan metode yang dirancang untuk menghasilkan, menganalisa, menyebarkan dan memperoleh informasi guna mendukung pengambilan keputusan mengenai penjualan.

D. DASAR – DASAR PROGRAM MUTU PENDIDIKAN
Untuk melaksanakan program mutu diperlukan beberapa dasar yang kuat, yaitu sebagai berikut :
a.komitmen pada perubahan
b.pemahaman yang jelas tentang kondisi yang ada
c.mempunyai visi yang jelas terhadap masa depan
d.mempunyai rencana yang jelas

E. PRINSIP – PRINSIP PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
Beberapa prinsip yang perlu dipegang dalam menerapkan program mutu pendidikan diantaranya sebagai berikut
a.Peningkatan mutu pendidikan menuntut kepemimpinan profesional. Manajemen mutu pendidikan merupakan alat yang dapat digunakan oleh para profesional pendidikan dalam memperbaiki sistem pendidikan bangsa kita.
b.Kesulitan yang dihadapi para profesional pendidikan adalah ketidakmampuan mereka dalam menghadapi ”kegagalan sistem” yang mencegah mereka dari pengembangan atau penerapan cara atau proses baru untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada.
c.Peningkatan mutu pendidikan harus melakukan loncatan – loncatan norma. Norma dan kepercayaan lama harus diubah. Sekolah harus belajar bekerjasama dengan sumber – sumber yang terbatas para profesional pendidikan harus membantu para siswa dalam mengembangkan kemampuan – kemampuan yang dibutuhkan guna bersaing dengan dunia global.
d.Mutu pendidikan dapat diperbaiki jika administrator, guru, staf, pengawas, dan pimpinan kantor Diknas mengembangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan, team work, kerjasama, akuntabilitas, dan rekognisi. Uang tidak menjadi penentu dalam peningkatan pendidikan.
e.Kunci uatama peningkatan mutu pendidikan adalah komitmen pada perubahan. Jika semua guru dan staf pendidikan telah memiliki komitmen pada perubahan, pimpinan dapat dengan mudah mendorong mereka menemukan cara baru untuk memperbaiki efisiensi, produktifitas dan kualitas layanan pendidikan. Guru akan menggunakan pendekatan yang baru atau model – model mengajar, membimbing dan melatih dalam membantu perkembangan siswa. Demikian juga staf administrasi menggunakan proses baru dalam menyusun biaya, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan program baru.
f.Banyak profesional di bidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar siswa yang bersifat global. Ketakutan terhadap perubahan akan mengakibatkan ketidaktahuan bagaimana mengatasi tuntutan – tuntutan baru.
g.Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dapat dipakai secara langsung dalam pendidikan,tetapi membutuhkan penyesuaian – penyesuaian dan penyempurnaan. Budaya, lingkungan, dan proses kerja tiap organisasi berbeda. Para profesional pendidikan harus dibekali oleh program yang khusus dirancang untuk menunjang pendididkan.
h.Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah sistem pengukuran yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat memperlihatkan mendokumentasikan nilai tambah dari pelaksanaan program peningkatan mutu pendidikan, baik terhadap siswa, orang tua maupun masyarakat.
i.Manajeman pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan menggunakan ”program singkat”, peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutan tidak dengan program – program singkat.

F. SEKOLAH DENGAN MANAJEMEN MUTU TOTAL (MMT)
Manajemen mutu total (MMT) merupakan suatu metodologi yang membantu para profesional pendidikan mengatasi lingkungan yang terus berubah. Dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk ikatan antara sekolah, dunia bisnis, dan pemerintah yang memungkinkan para profesional disekolah atau di daerah dilengkapi dengan sumber – sumber yang dibutuhkan dalam pengembangan program mutu.
Manajemen mutu total (MMT) merupakan aspek utama dari manajemen total. Metodologi yang mempermudah mengelola perubahan, membentuk fokus perubahan, membentuk infrastruktur yang lebih fleksibel, cara merespon pada tuntutan perubahan masyarakat, serta membantu pendidikan dalam mengatasi hambatan – hambatan biaya dan waktu.
Perubahan terhadap MMT dimulai dengan mengadopsi pembagian tugas tentang pelaksanaan mutu pada tingkat majelis sekolah,administrator,guru,staf administrasi,siswa orang tua dan masyarakat. Kegiatan diawali dengan merumuskan visi dan misi sekolah dan seksi – seksi pendidikan sekolah.
Visi MMT dipusatkan pada menemukan kebutuhan para penggunaan lulusan (customer), persiapan melibatkan masyarakat secara menyeluruh dalam program peningkatan mutu, mengembangkan sistem untuk mengukur nilai tambah dari pendidikan, sistem dukungan yang memungkinkan guru, staf administrasi dan siswa dalam mengelola perubahan, dan melakukan penyempurnaan yang berkelanjutan dengan tujuan agar produk sekolah menuju arah yang lebih baik.

G. PRINSIP – PRINSIP SEKOLAH DENGAN MMT
Sekolah yang menerapkan manajemen mutu total, sekolah tersebut melaksanakan program mutu pendidikan dengan berpegang pada prinsip – prinsip sebagai berikut.
a.Berfokus pada kustomer
Setiap orang di sekolah harus memahami bahwa setiap produk pendidikan mempunyai pengguna (customer). Setiap anggota dari sekolah adalah pemasok (supplier) dan pengguna (customer). Pengguna pertama dari sekolah adalah keluarga atau disebut (big customer) dan siswa (little customer). Keluarga atau orang tua juga merupakan pemasok. Ada dua macam pengguna (customer) yaitu pengguna internal, seperti orang tua, siswa guru, administrator, staf dan majelis sekolah. Pengguna eksternal, seperti masyarakat, pimpinan perusahaan-industri, lembaga pemerintah lembaga swasta, perguruan tinggi, dan lembaga keamanan.
b.Keterlibatan menyeluruh.
Semua orang harus terlibat dalam transformasi mutu. Manajemen harus komitmen dan terfokus pada peningkatan mutu. Dimulai dengan mengadopsi paradigma pendidikan baru.
c.Pengukuran
Pandangan lama mutu pendidikan atau lulusan diukur dari skor prestasi belajar. Dalam pendekatan baru, para profesional pendidikan harus belajar mengukur mutu pendidikan dari kemampuan dan kinerja lulusan berdasarkan tuntutan pengguna. Para profesional pendidikan harus belajar menguasai teknik – teknik pengumpulan dan analisis data, bukan saja data kemampuan lulusan, melainkan semua data yang terkait dengan kegiatan dan penunjang pelaksanaan pendidikan. Melalui pengumpulan dan analisis data, para profesional pendidikan akan mengetahui nilai tambah dari pendidikan, kelemahan dan hambatan yang dihadapi, serta upaya penyempurnaannya.
d.Pendidikan sebagai sistem
Pendidikan sebagai sistem memiliki sejumlah komponen, seperti siswa, guru, kurikulum, sarana-prasarana, media, sumber belajar, orang tua, dan lingkungan. Diantara komponen – komponen tersebut terjalin hubungan yang berkesinambungan dan keterpaduan dalam pelaksanaan sistem.
Perbaikan yang berkelanjutan. Dalam filsafat lama dianut prinsip,”jika sudah rusak baru diperbaiki”, sedangkan dalam filsafat mutu menganut prinsip, bahwa tiap proses perlu diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna perlu selalu diperbaiki dan disempurnakan...........................

0 komentar:

Poskan Komentar